Pendingin ruangan atau AC sudah menjadi fasilitas penting untuk kenyamanan belajar di ruang kelas MTsN 1 Banyuwangi. Namun, banyak yang belum tahu bahwa selain mendinginkan ruangan, AC juga terus-menerus menghasilkan tetesan air buangan (air kondensasi). Air dari hasil pengembunan uap udara ini sebenarnya sangat murni, bersih, dan bebas dari kandungan kaporit (obat penjernih air). Sayangnya, potensi ini sering diabaikan. Air AC biasanya dibiarkan menetes begitu saja, membuat lantai koridor basah dan licin, serta membuat dinding sekolah menjadi lembap, berlumut, dan cepat rusak.

Melihat masalah tersebut, MTsN 1 Banyuwangi tidak tinggal diam. Sebagai sekolah yang peduli lingkungan (Adiwiyata), pihak madrasah memanfaatkan air buangan AC ini untuk program hemat air (konservasi air). Caranya pun sangat sederhana dan murah. Cukup dengan memasang selang plastik yang disambungkan langsung ke lubang pembuangan di mesin luar AC. Memanfaatkan gaya gravitasi, selang tersebut dialirkan ke bawah secara rapi menuju tempat penampungan seperti jeriken atau ember tertutup di atas tanah agar air yang terkumpul tetap bersih dari debu.
Menariknya, pembuatan saluran hemat air ini dilakukan sendiri secara gotong royong oleh para guru dan pimpinan sekolah. Pemandangan penuh kebersamaan terlihat saat Bapak Umar Sidik, M.Pd. (Waka Sarana Prasarana) memimpin langsung aksi lapangan ini bersama Bapak Eko Wahyudi, S.Pd. dari Tim Adiwiyata sekolah. Tidak ketinggalan, bapak guru lain seperti Bapak Suparlan, M.Pd. dan Bapak Hariyono, S.Pd. juga ikut naik tangga untuk menyambungkan selang-selang tersebut. Kerja sama para guru ini menjadi contoh atau keteladanan nyata bagi para siswa, bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama, bukan sekadar teori di dalam buku pelajaran.

Aksi sederhana mengalirkan air AC lewat selang ini membawa banyak manfaat nyata bagi sekolah. Pertama, sekolah bisa lebih hemat air bersih. Air tampungan AC ini sekarang digunakan untuk menyiram tanaman pot di koridor kelas dan menjadi air pengisi ember untuk mengepel lantai. Kedua, karena air AC bebas dari kaporit, tanaman pot di sekolah justru tumbuh lebih subur dan tanahnya tidak mudah mengeras. Ketiga, fasilitas sekolah menjadi lebih terawat. Dinding kelas tidak lagi berlumut karena rembesan air, dan lantai koridor tetap kering sehingga siswa aman dari risiko terpeleset.
Melalui pemanfaatan air buangan AC ini, MTsN 1 Banyuwangi membuktikan bahwa peduli lingkungan tidak harus mahal dan rumit. Bermodalkan kreativitas memanfaatkan apa yang ada di sekitar, serta diperkuat oleh budaya gotong royong para gurunya, madrasah ini berhasil mengubah air yang tadinya terbuang sia-sia menjadi sumber kehidupan yang baru bagi tanaman sekolah.
